Main Article Content

Abstract

Latar Belakang : Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber gizi dan makanan paling aman serta ideal bagi bayi usia 0-6 bulan. ASI mengandung hampir 200 unsur zat makanan. WHO merekomendasikan pemberian ASI selama minimal 6 bulan. UNICEF memastikan bahwa bayi yang diberi susu formula memiliki kemungkinan meninggal pada bulan pertama sebesar 25 kali lebih besar dibandingkan bayi yang diberi ASI eksklusif. Dalam pelaksanaannya pemberian ASI eksklusif tidak selalu lancar. Penelitian di Australia mengemukakan bahwa 29% ibu nifas berhenti memberikan ASI akibat produksi ASI menurun. Penurunan ASI pada hari-hari pertama setelah melahirkan dapat disebabkan kurangnya stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan penting dalam kelancaran produksi ASI.


Tujuan penelitian ini adalah membandingkan terapi komplementer Tuina Akupoin dan Facial Loving Touch (FLT) dalam meningkatkan produksi ASI.


Metode : Penelitian comparative design dengan rancangan two group pretest and posttest design. Pretest dilakukan melalui pengukuran produksi ASI dengan pumping elektrik selama 5 menit. Kemudian dilakukan intervensi. Grup I diberikan intervensi Tuina Akupoint, sementara Grup II diberikan intervensi FLT. Lama intervensi setiap kelompok 20 menit. Pengelompokan didasarkan pada responden mana memenuhi kriteria inklusi terlebih dahulu. Posttest dilakukan dengan mengukur produksi ASI selama 5 menit.


Hasil : Kedua intervensi efektif meningkatkan produksi ASI (p-value Grup I = 0.000 < 0.05 & Grup II = 0.000 < 0.05), namun kelompok intervensi Tuina Akupoint memiliki nilai rata-rata produksi ASI lebih besar yaitu 8.0 dibandingkan kelompok intervensi FLT 4.05.


Simpulan : Terapi komplementer Tuina Akupoint dapat dijadikan salah satu alternativ dalam meningkatkan produksi ASI.

Keywords

ASI, Tuina Akupoint, Facial Loving Touch

Article Details

How to Cite
Miraturrofi’ah, M. (2022). EFEKTIFITAS TERAPI KOMPLEMENTER : TUINA AKUPOIN DAN FACIAL LOVING TOUCH DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI ASI. Jurnal Asuhan Ibu Dan Anak, 7(1), 21-28. https://doi.org/10.33867/jaia.v7i1.311